
Senin, 05 November 2012
Cara bermain bass
Bass adalah salah satu alat musik yang cukup familiar di telinga kita. Ketika mendengar tentang kata "Bass" kita pasti langsung teringat dengan mas Bondan, mas Frenky, mba' Ices dan para bass player lainnya yang juga tidak kalah hebatnya. Bass pada umumnya mempunyai 4 senar, tapi pada aliran-aliran seperti jazz, funk, dan progressive selalu mempunyai senar lebih dari 4. Dalam memainkan musik, bass selalu mengikuti pola irama drum sehingga membentuk groove. Ada beberapa cara mudah untuk memainkan bass yang dapat ditempuh oleh para bass player pemula. Diantaranya adalah sebagai berikut :
Sebelum memainkan bass, kita hendaknya menganggap kalau bass yang akan kita mainkan itu adalah perpanjangan dari tangan kita sehigga kita lebih leluasa untuk mengexplorasi imajinasi kita dengan medium bass tadi. Selanjutnya adalah mengenal pola irama ketukan drum sehingga kita bisa dengan mudah untuk membentuk groove yang enak didengar. Untuk posisi tangan, sebaiknya kita berusaha untuk lebih rileks agar tidak mudah lelah. Pick up pada bass juga menentukan style dalam permainan kita. Yang paling utama adalah perasaan, karena jika kita memainkan bass tidak dengan menggunakan perasaan, permainan akan terasa kotor walaupun kita mempunyai skill bermain bass yang cukup.
Dalam latihan juga sebaiknya dibiasakan dalam posisi berdiri. Hal ini dimaksudkan agar ketika akan tampil diatas panggung kita sudah menguasai perpindahan dari fret yang satu ke fret yang lain. Posisi bass juga menentukan dalam permainan. Kalau saya sendiri lebih nyaman jika posisinya agak ke bawah perut.
Teknik Slap adalah teknik yang tidak asing bagi para pemain bass. Slap merupakan teknik yang penuh dengan ritmik dan gaya perkusi. Suaranya yang terang dihasilkan dari benturan atau tamparan ibu jari tangan kanan ke sebuah senar bas yang diikuti dengan cabikan jari tangan kanan yang lain ke senar yang berbeda. Gaya slap biasa dimainkan di aliran jenis mudik Funk dan R & B. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan zaman gaya pluck (P) merupakan dasar dari teknik slap.
DASAR MAININ BASS
Instrument bass
Seperti gitar, bass adalah alat musik yang menggunakan dawai ato senar sebagai sumber suaranya. Hanya saja bass memakai 4 (senar paling atas kalo ada di gitar), yaitu senar E yang paling rendah, senar A, senar D dan senar G yang paling tinggi. Susunan senar pada bass (4senar) juga dimulai dari senar 6=E, 5=A, 4=D, dan 3=G. Demikian pula dalam penulisannya dalam tablature, bass hanya menggunakan 4 garis yang mewakili senar-senar tersebut.
Fungsi bass
Pada sebuah lagu, bass berperan sebagai penentu dan pemandu chord yang sedang dimainkan dalam setiap pergerakan lagu. Disini, bass berperan bersama guitar dan piano. Bass juga berperan sebagai pengiring musik saat dimainkan, dimana peran ini berbagi dengan pemain drum. Kalo uda diketahui bahwa bass seakan menghubungkan antara pemandu (gitar dan piano) dengan pengiring (drum) sehingga dapat menjadi kesatuan yang harmonis dan terorganisir dengan baik.
Sabtu, 03 November 2012
profil budi DoReMi
Ini dari teman Budi oke...... =)
Bio Budi Doremi:
Nama Lengkap : Syahbudin Syukur
Nama Panggilan: Budi
TTL : Serang, Banten 19 September 1984
Musik Favorite : The Moffats, Hanson, Van Hallen, Extreme, Mr. Big dan God Bless.
Hobby: Nyanyi, Maen layangan, Maen kodok, Maen kambing, Maen dinosaurus, Maen hati, Maen gitar, maen-maen dan Mancing.
Ukuran Baju: M
Facebook Fans Page: Ini Teman Budi
Twitter: @BUDIdoremi
Bersama gitar kecilnya yang begitu iconic, Budi Doremi kerap kali tampil dalam berbagai acara panggung musik tanah air. Terlahir dengan nama lengkap Syahbudin Syukur, ia enggan berganti nama dengan ‘nama komersil’. Penggabuangan antara nama panggilannya, Budi, dengan judul tembang debutnya sebagai nama belakang menjadi nama panggung yang begitu simpel namun mudah diingat.
Pria yang lahir 27 tahun silam di Serang, Banten, ini menemukan sendiri karakter musiknya setelah melewati masa perantauan di berbagai kota: Banten, Lampung, Yogyakarta, dan Bandung. Di empat kota tersebut ia berkenalan dengan berbagai macam jenis musik. Mulai dari band 90-an The Moffats dan Hanson, musik skilful seperti Van Halen dan God Bless, hingga ke warna musik ala Sondre Lorche dan Cozy Street Corner. Ketika melalui masa perantauan di Bandung lah Budi Doremi merasa yakin bahwa ia lebih nyaman menjadi penyanyi solo. Hingga akhirnya, karakter musik yang telah lama ia bangun tersebut dinamai dengan Pop Reggaernerasi.
Dalam sebuah kesempatan setelah tampil hilir mudik di berbagai panggung musik, Budi dipertemukan dengan perusahaan rekaman Wannab Music Production. Kesempatan tersebut tidak ia sia-siakan begitu saja. Ia mengirimkan demo CD dengan bentuk yang unik, artistik, dan eksklusif sebagai wujud perjuangannya selama ini. Alhasil kerja kerasnya pun akhirnya berbuah manis. Pihak Wannab Music Production langsung tertarik, bahkan mereka membebaskan Budi untuk berkreasi dalam menuangkan segala ide dan kreatifitas ketika bermusik.
Maka pada tahun 2011, lahirlah debut single-nya yang berjudul “Doremi”. Setelah “1234” lahir sebagai single kedua, pada awal Januari 2012 rilis abum pertamanya dengan judul “1 Hari Yang Cerah”.
Kesederhanaan Budi Doremi membuatnya memiliki kesan tersendiri di hati para penggemar. Sebagai musisi yang namanya tengah bersinar, bisa dikatakan bahwa ia adalah artis yang low profile. Hal ini terlihat ketika Budi tidak canggung untuk menghampiri para fans yang telah lama menunggunya. Bahkan ia hafal beberapa nama dari mereka dan kerap kali menyapanya dengan akrab. Karena kedekatan dan keakraban para penggemarnya dengan sang idola, maka tidak heran apabila penggemar Budi Doremi menamai diri mereka sebagai “Ini Teman Budi”.
Beberapa waktu lalu ketika mengunjungi Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Budi diberi kehormatan untuk menjadi Duta Bajo bersama aktris cantik, Olivia Jansen. Kini Budi Doremi tengah sibuk mempromosikan soundtrack film yang merupakan hasil kerjasama antara Indonesia-Malaysia, yaitu Gerimis Mengundang. Dalam album soundtrack film tersebut ia berkolaborasi dengan penyanyi asal Malaysia, Brenda Anura, dalam menyanyikan lagu lawas legendaries tahun 90-an, “Gerimis Mengundang” [saras/IT/foto:istimewa]
Silahkan dilihat foto -foto Kang Budi disini :
Bio Budi Doremi:
Nama Lengkap : Syahbudin Syukur
Nama Panggilan: Budi
TTL : Serang, Banten 19 September 1984
Musik Favorite : The Moffats, Hanson, Van Hallen, Extreme, Mr. Big dan God Bless.
Hobby: Nyanyi, Maen layangan, Maen kodok, Maen kambing, Maen dinosaurus, Maen hati, Maen gitar, maen-maen dan Mancing.
Ukuran Baju: M
Facebook Fans Page: Ini Teman Budi
Twitter: @BUDIdoremi
Bersama gitar kecilnya yang begitu iconic, Budi Doremi kerap kali tampil dalam berbagai acara panggung musik tanah air. Terlahir dengan nama lengkap Syahbudin Syukur, ia enggan berganti nama dengan ‘nama komersil’. Penggabuangan antara nama panggilannya, Budi, dengan judul tembang debutnya sebagai nama belakang menjadi nama panggung yang begitu simpel namun mudah diingat.
Pria yang lahir 27 tahun silam di Serang, Banten, ini menemukan sendiri karakter musiknya setelah melewati masa perantauan di berbagai kota: Banten, Lampung, Yogyakarta, dan Bandung. Di empat kota tersebut ia berkenalan dengan berbagai macam jenis musik. Mulai dari band 90-an The Moffats dan Hanson, musik skilful seperti Van Halen dan God Bless, hingga ke warna musik ala Sondre Lorche dan Cozy Street Corner. Ketika melalui masa perantauan di Bandung lah Budi Doremi merasa yakin bahwa ia lebih nyaman menjadi penyanyi solo. Hingga akhirnya, karakter musik yang telah lama ia bangun tersebut dinamai dengan Pop Reggaernerasi.
Dalam sebuah kesempatan setelah tampil hilir mudik di berbagai panggung musik, Budi dipertemukan dengan perusahaan rekaman Wannab Music Production. Kesempatan tersebut tidak ia sia-siakan begitu saja. Ia mengirimkan demo CD dengan bentuk yang unik, artistik, dan eksklusif sebagai wujud perjuangannya selama ini. Alhasil kerja kerasnya pun akhirnya berbuah manis. Pihak Wannab Music Production langsung tertarik, bahkan mereka membebaskan Budi untuk berkreasi dalam menuangkan segala ide dan kreatifitas ketika bermusik.
Maka pada tahun 2011, lahirlah debut single-nya yang berjudul “Doremi”. Setelah “1234” lahir sebagai single kedua, pada awal Januari 2012 rilis abum pertamanya dengan judul “1 Hari Yang Cerah”.
Kesederhanaan Budi Doremi membuatnya memiliki kesan tersendiri di hati para penggemar. Sebagai musisi yang namanya tengah bersinar, bisa dikatakan bahwa ia adalah artis yang low profile. Hal ini terlihat ketika Budi tidak canggung untuk menghampiri para fans yang telah lama menunggunya. Bahkan ia hafal beberapa nama dari mereka dan kerap kali menyapanya dengan akrab. Karena kedekatan dan keakraban para penggemarnya dengan sang idola, maka tidak heran apabila penggemar Budi Doremi menamai diri mereka sebagai “Ini Teman Budi”.
Beberapa waktu lalu ketika mengunjungi Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Budi diberi kehormatan untuk menjadi Duta Bajo bersama aktris cantik, Olivia Jansen. Kini Budi Doremi tengah sibuk mempromosikan soundtrack film yang merupakan hasil kerjasama antara Indonesia-Malaysia, yaitu Gerimis Mengundang. Dalam album soundtrack film tersebut ia berkolaborasi dengan penyanyi asal Malaysia, Brenda Anura, dalam menyanyikan lagu lawas legendaries tahun 90-an, “Gerimis Mengundang” [saras/IT/foto:istimewa]
Silahkan dilihat foto -foto Kang Budi disini :
Profil Waljinah " Si Walang Kekek " Seniman Jawa
PROFIL WALJINAH " SI WALAG KEKEK "
Seniman Jawa
KOMPAS.com - Waljinah adalah seorang ”superstar”, jauh sebelum negeri ini mengenal Madonna atau Taylor Swift. Lagu ”Walang Kekek” atau ”Jangkrik Genggong” yang dilantunkan oleh penyanyi asal Solo, Jawa Tengah, itu menjadi lagu rakyat. Di usia 65 tahun, Waljinah sudah lebih dari 50 tahun bernyanyi dan tetap setia dengan keroncong.
Mari kita buka halaman koran tahun 1968-1969. Pada masa itu di radio, Beatles tengah kondang dengan ”Hey Jude”, dan Scot McKenzie populer dengan ”San Francisco” yang menjadi penanda gerakan generasi bunga di Amerika Serikat.
Saat itu Orde Baru mulai berkuasa setelah diakhirinya kekuasaan Bung Karno. Ekonomi rakyat susah payah. Masyarakat kelas bawah terbuai oleh mimpi untuk menjadi orang kaya darurat dengan membeli undian bernama Nasional Lotere alias Nalo. Radio swasta bermunculan di sejumlah kota dan radio transistor menggeser radio listrik. Dalam lanskap kehidupan seperti itulah muncul Waljinah dengan lagu ”Walang Kekek”.
”Sebelum Nalo dibuka (diumumkan hasil undiannya) di radio itu diputar dulu ’Walang Kekek’. Wah, ramai sekali. Sambil nunggu Nalo orang-orang itu terhibur,” kata Waljinah yang ditemui di rumahnya di Kampung Mangkuyudan, Solo, awal Maret lalu.
”Walang Kekek” benar-benar menjadi sound track zaman yang mengiringi sebuah babak kehidupan rakyat. Lagu yang menurut Waljinah termasuk no name atau tidak diketahui penggubahnya itu liriknya ditulis oleh Waljinah. Syair berupa parikan atau semacam pantun yang mengacu pada persamaan bunyi.
”’Walang Kekek’ itu lagu jenaka yang isinya sindiran. Kita menyindir diri sendiri,” tutur Waljinah sambil melantunkan penggalan parikan degan suara yang (masih) merdu.
”Walang kekek mencok neng tenggok/ Mabur maneh mencok nang pari/ Aja ngenyek karo wong wedok/ Yen ditinggal lungo setengah mati”. Artinya, walang kekek hinggap di tenggok (bakul)/ Terbang lagi hinggap di padi/ jangan melecehkan perempuan/ kalau ditinggal pergi (rasanya) setengah mati.
”Isi lagu itu saya ambil dari kenyataan dalam pergaulan hidup sehari-hari. Dan benar kan, kalau tidak ada wanita, orang (laki-laki) akan susah setengah mati. Makanya, jangan ngenyek sama wanita,” katanya wanti-wanti.
Antipoligami
Waljinah memotret romantika kehidupan masyarakat secara komedik, karikatural. Ia tidak sok menggurui atau memaki, tetapi mengajak orang untuk berintrospeksi dengan cara jenaka, menghibur. Waljinah melantunkan lagi bait lain: ”Walang abang mencok neng kara / Walang ijo walange putih/ Bujang maneh ora ngluyura/ Sing wis duwe bojo/ (O)ra tau mulih…”
Seperti pantun, dua baris pertama merupakan sampiran, sedangkan dua baris berikutnya merupakan isi yang artinya dituturkan oleh Waljinah.
”Benar juga kan. Bagaimana seorang yang masih bujang tidak ngeluyur (keluar rumah), wong orang yang sudah punya istri, bahkan yang sudah punya cucu saja tidak pernah pulang ke rumah ha-ha-ha…,” kata Waljinah yang mempunyai lima anak itu.
Persoalan asmara, hubungan keluarga antara suami dan istri, ketidaksetiaan disinggung dalam lagu-lagu Waljinah. Beberapa kali ia menyindir soal poligami, termasuk dalam lagu ”Tepo Tulodo” gubahan Waljinah.
”Saya memang antipoligami. Sakit lho, perempuan yang ditandingkan itu. Laraning lara (sakitnya sakit) dari seorang perempuan itu kalau diduakan, ditandingkan dengan perempuan lain. Saya enggak percaya kalau perempuan merasa bahagia dipoligami. Hatinya kan nggerus (tergerus),” kata Waljinah.
”Makanya perempuan harus pinter. Harus mandiri. Jangan sampai njagakke (hanya mengharapkan) orang lain,” katanya tegas.
Dengan keberpihakan yang jelas pada perempuan, suara merdu, kenes, kemayu serta lirik yang jenaka dan dekat dengan kehidupan sehari-hari itulah lagu-lagu Waljinah berkenan di hati publik. Selain lewat radio, Waljinah juga akrab dengan masyarakat karena ia sering tampil langsung di depan khalayak dari kampung ke kampung, dari panggung ke panggung.
Bukan pesinden
Dari mana sebenarnya kemampuan Anda bernyanyi?
”Alam,” kata Waljinah anak bungsu dari sepuluh bersaudara yang lahir di bulan Syawal tahun 1945 itu.
Tapi, ia mungkin juga belajar dari sang ibu yang selalu mengantarkan tidur anaknya dengan tembang-tembang. ”Sejak kecil kalau mau tidur, saya dininabobokan dengan tembang-tembang macapat. Saya inget sekali tembang ”Dandang Gula” yang sering dinyanyikan ibu. Itu mengapa sejak kecil saya suka sekali nembang macapat. Waktu kelas empat SD, saya juara pertama lomba nembang di Solo.”
Kemampuan nyanyi Waljinah pertama didengar oleh kakaknya, Munadi, yang memang seorang penyanyi keroncong. ”Saya kalau mandi kan sambil nyanyi. Kakak saya dengar. ’Lho kowe kok iso’ nyanyi keroncong—kamu kok bisa menyanyi keroncong,” kata Waljinah menirukan keheranan sang kakak.
”Saya dibimbing dan diajak latihan. Kalau latihan, saya harus melompat jendela lalu digendong kakak. Saya latihan dari kampung ke kampung yang mempunyai kelompok orkes keroncong. Umur saya masih 12 tahun dan sudah jadi penyanyi.”
”Saya belajar sendiri dengan cara mendengar. Waktu itu di RRI Solo ada penyanyi yang saya sukai, yaitu Maryati dan Sayekti. Saya belajar dari mereka.”
Cengkok Jawa dalam cara nyanyi Waljinah adalah pengaruh kuat kebiasaan menembang macapat semasa kecil. Selain itu, ia juga sangat akrab dengan olah vokal pada karawitan Jawa. ”Saya juga belajar dari Nyi Podang. Saya seneng banget dengan suaranya. Dari Nyi Podang saya belajar gregel (kelak-kelok suara),” kata Waljinah menyebut nama pesinden yang suaranya terkenal lewat siaran karawitan di RRI Solo.
Anda juga menyinden di pergelaran wayang kulit?
”Saya bukan pesinden. Di wayang kulit posisi saya bukan sebagai pesinden, tapi bintang tamu yang menyanyi langgam. Ada satu dua gending yang bisa saya bawakan, misalnya ’Jineman’ itu kan mudah dan seperti langgam. Juga bowo (bagian solo dari satu komposisi). Tapi, kalau nyinden saya enggak mau karena bisa merusak cara saya menyanyi langgam, karena artikulasinya berbeda.”
Wayang kulit
Saat pergelaran wayang kulit memerlukan pembaruan kemasan pada akhir 1980-an, Waljinah dilibatkan. Sejumlah pemerhati wayang kulit kala itu berkumpul di rumah dalang Ki Anom Suroto di Kampung Notodiningratan, Solo. ”Waktu itu Gubernur (Jawa Tengah) Ismail ingin agar wayang ditonton anak muda. Kami mencari terobosan dengan menggunakan bintang tamu. Saya yang pertama diajak sebagai bintang tamu.”
Waljinah turut memberi kontribusi perubahan dalam dunia persindenan, terutama pada pentas wayang kulit. Ia antara lain mengajak para sinden untuk berdandan agar menarik dilihat penonton.
”Kalian harus dandan yang baik. Pakaian enggak usah mahal, tapi cari yang gemerlap supaya kelihatan byar, tidak mleruk (redup). Mereka saya ajari pakai idep, bulu mata (palsu). Nanti kalian akan kelihatan cantik di panggung,” kata Waljinah yang memang berpengalaman dalam urusan penampilan.
Perubahan lain dalam dunia persindenan yang dibawa Waljinah adalah pada posisi duduk pesinden. Saat harus tampil sebagai bintang tamu, Waljinah sengaja membawa dingklik (sejenis tempat duduk kecil). Dingklik itu ia tutupi kain supaya, kata Waljinah, ora ngisin-isini—tidak memalukan.
”Saya harus duduk di dingklik karena saya kan pakai long torso. Kalau posisi saya bertimpuh, saya akan susah bernapas dan tidak bisa bernyanyi. Tapi dengan dingklik saya kelihatan paling gagah karena paling tinggi sendiri kelihatannya ha-ha-ha....”
Sejak itu banyak pesinden menggunakan dingklik.
Jiwa tenteram
Waljinah bukan hanya superstar, tapi juga master dalam langgam dan keroncong. Penilaian itu datang dari Joanna Dudley, seorang penyanyi asal Australia tetapi bermukim di Jerman, yang pernah berguru keroncong langsung kepada Waljinah di Solo selama sekitar empat tahun.
Waljinah di rumahnya juga melatih bernyanyi keroncong anak-anak usia sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas. Ia dengan tulus dan antusias ingin menyebarkan keroncong kepada siapa saja, musik yang ia yakini berakar pada budaya Tanah Air itu.
”Keroncong memang tidak seperti rock, pop, atau dangdut yang serba banter (keras). Tapi keroncong itu memesona, menghipnotis. Orang marah kalau dengar keroncong yang halus dan suara penyanyi yang merdu bisa tentrem. Keroncong itu kan jiwa kita dan warisan nenek moyang kita, jangan sampai hilang. Eman-eman.”
Profil Mbah Gesang
Tentu nggak asing lagi kan dengan Sosok Lelaki ini.. Ya lagunya sangat membludak.. yaitu bengawan Solo.... Kita lihat sejenak profil sedikit mengenai Mbah Gesang....
Gesang atau lengkapnya Gesang Martohartono (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 1 Oktober 1917 – meninggal di Surakarta, Jawa Tengah, 20 Mei 2010 pada umur 92 tahun) adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu asal Indonesia. Dikenal sebagai "maestro keroncong Indonesia," ia terkenal lewat lagu Bengawan Solo ciptaannya, yang terkenal di Asia, terutama di Indonesia dan Jepang. Lagu 'Bengawan Solo' ciptaannya telah diterjemahkan kedalam, setidaknya, 13 bahasa (termasuk bahasa Inggris, bahasa Tionghoa, dan bahasa Jepang)
Gesang tinggal di di Jalan Bedoyo Nomor 5 Kelurahan Kemlayan, Serengan, Solo bersama keponakan dan keluarganya, setelah sebelumnya tinggal di rumahnya Perumnas Palur pemberian Gubernur Jawa Tengah tahun 1980 selama 20 tahun. Ia telah berpisah dengan istrinya tahun 1962. Selepasnya, memilih untuk hidup sendiri. Ia tak mempunyai anak.
Gesang pada awalnya bukanlah seorang pencipta lagu. Dulu, ia hanya seorang penyanyi lagu-lagu keroncong untuk acara dan pesta kecil-kecilan saja di kota Solo. Ia juga pernah menciptakan beberapa lagu, seperti; Keroncong Roda Dunia, Keroncong si Piatu, dan Sapu Tangan, pada masa perang dunia II. Sayangnya, ketiga lagu ini kurang mendapat sambutan dari masyarakat.
Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya terhadap perkembangan musik keroncong, pada tahun 1983 Jepang mendirikan Taman Gesang di dekat Bengawan Solo. Pengelolaan taman ini didanai oleh Dana Gesang, sebuah lembaga yang didirikan untuk Gesang di Jepang.
Tahun 2007, Gesdang dirawat di rumah sakit PKU Solo dan menjalani operasi prostat. Di Januari 2010, Gesang masuk rumah sakit kembali, tak lama kemudian Gesang pulang.
Selanjutnya, Gesang masuk rumah sakit Rabu 13 Mei karena gangguan pernafasan dan infeksi kandungan kemih. Minggu, 16 Mei Gesang masuk ICU RSU Solo karena mengalami penurunan tekanan darah. Selasa, 18 Mei Gesang digosipkan meninggal dunia, akan tetapi kabar tersebut ternyata salah.
Lagu-lagu ciptaan Gesang
* Bengawan Solo
* Jembatan Merah
* Pamitan (versi bahasa Indonesia dipopulerkan oleh Broery Pesulima)
* Caping Gunung
* Ali-ali
* Andheng-andheng
* Luntur
* Dongengan
* Saputangan
* Dunia Berdamai
* Si Piatu
* Nusul
* Nawala
* Roda Dunia
* Tembok Besar
* Seto Ohashi
* Pandanwangi
* Impenku
* Kalung Mutiara
* Pemuda Dewasa
* Borobudur
* Tirtonadi
* Sandhang Pangan
* Kacu-kacu
Intinya Yang muda sekarang Harus yang beraksi.... Budayakan selalu musik - musik nusantara ini......
Gesang atau lengkapnya Gesang Martohartono (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 1 Oktober 1917 – meninggal di Surakarta, Jawa Tengah, 20 Mei 2010 pada umur 92 tahun) adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu asal Indonesia. Dikenal sebagai "maestro keroncong Indonesia," ia terkenal lewat lagu Bengawan Solo ciptaannya, yang terkenal di Asia, terutama di Indonesia dan Jepang. Lagu 'Bengawan Solo' ciptaannya telah diterjemahkan kedalam, setidaknya, 13 bahasa (termasuk bahasa Inggris, bahasa Tionghoa, dan bahasa Jepang)
Gesang tinggal di di Jalan Bedoyo Nomor 5 Kelurahan Kemlayan, Serengan, Solo bersama keponakan dan keluarganya, setelah sebelumnya tinggal di rumahnya Perumnas Palur pemberian Gubernur Jawa Tengah tahun 1980 selama 20 tahun. Ia telah berpisah dengan istrinya tahun 1962. Selepasnya, memilih untuk hidup sendiri. Ia tak mempunyai anak.
Gesang pada awalnya bukanlah seorang pencipta lagu. Dulu, ia hanya seorang penyanyi lagu-lagu keroncong untuk acara dan pesta kecil-kecilan saja di kota Solo. Ia juga pernah menciptakan beberapa lagu, seperti; Keroncong Roda Dunia, Keroncong si Piatu, dan Sapu Tangan, pada masa perang dunia II. Sayangnya, ketiga lagu ini kurang mendapat sambutan dari masyarakat.
Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya terhadap perkembangan musik keroncong, pada tahun 1983 Jepang mendirikan Taman Gesang di dekat Bengawan Solo. Pengelolaan taman ini didanai oleh Dana Gesang, sebuah lembaga yang didirikan untuk Gesang di Jepang.
Tahun 2007, Gesdang dirawat di rumah sakit PKU Solo dan menjalani operasi prostat. Di Januari 2010, Gesang masuk rumah sakit kembali, tak lama kemudian Gesang pulang.
Selanjutnya, Gesang masuk rumah sakit Rabu 13 Mei karena gangguan pernafasan dan infeksi kandungan kemih. Minggu, 16 Mei Gesang masuk ICU RSU Solo karena mengalami penurunan tekanan darah. Selasa, 18 Mei Gesang digosipkan meninggal dunia, akan tetapi kabar tersebut ternyata salah.
Lagu-lagu ciptaan Gesang
* Bengawan Solo
* Jembatan Merah
* Pamitan (versi bahasa Indonesia dipopulerkan oleh Broery Pesulima)
* Caping Gunung
* Ali-ali
* Andheng-andheng
* Luntur
* Dongengan
* Saputangan
* Dunia Berdamai
* Si Piatu
* Nusul
* Nawala
* Roda Dunia
* Tembok Besar
* Seto Ohashi
* Pandanwangi
* Impenku
* Kalung Mutiara
* Pemuda Dewasa
* Borobudur
* Tirtonadi
* Sandhang Pangan
* Kacu-kacu
Intinya Yang muda sekarang Harus yang beraksi.... Budayakan selalu musik - musik nusantara ini......
Sabtu, 20 Oktober 2012
Speech Save Our Culture
Assalamualaikum
wr. wb
Hello everybody !
My name is Rikha
I’m a student of ......(Junior
High School …..)
to the grand jury
of honoured and the audience all that I loved.
I am greatly honoured and great full for
the opportunity given to me in addressing a speech on
“SAVE
OUR CULTURE”
Culture
shapes our lives and affects every action we take. The Left knows this simple
fact; we seem not to know it, and as a result we are content to leave the Left
in control of culture. By "culture," I mean the realm of meaning and
value--how we live and how we want to live. Culture is the mental component of
life, and its capacity to influence the material, while not total, is enormous.
This modern usage of "culture" includes education and entertainment,
the high and the low, the serious and the popular, the private and the public.
It is a usage far removed from the pure nineteenth-century conception of
culture as aspiration and uplift, which I cherish, but culture, however
defined, is still capable of being better or worse aesthetically, decent or
sordid morally.
But sometimes also arises a sense of deep concern and
sadness in ourselves, when we look at the culture of Indonesia. Culture of
courtesy, hospitality, and mutual aid have started to fade and not in
themselves the people of Indonesia. And we began to leave their own culture who
have contributed enormously in the establishment of the Indonesian nation.
Culture is the heart of hearts of a nation, so if our culture is lost it is
lost anyway in the nation's life own.
It is to many of us who forget about
culture of this nation, and began to be affected by the culture - negative
culture from abroad. That is what causes the feeling sorry for ourselves.
Indonesia as a nation we should be able to keep our own culture.
And
also newspaper claimed
news that has circulated in
various electronic and print
media. Namely claimed
culture by Malaysia. Among Reog
Ponorogo, Angklung, Tari Pendet, Batik, Song Rasa
Sayange, and many more of our
culture in claim
by Malaysia. But what
do people in
Indonesia? They began holding protests everywhere,
and began to broadcast
that the culture of Indonesia has been in
Malaysia claims. Where
as before, when our culture is
not in our
claim we over calm, and ignored it, but
when that culture has taken us getting angry
and upset. Properties
like that should be dumped far from the nation
of Indonesia.
The
influence of media also has important implications for our culture. The
media has an important role in maintaining and
preserving the culture of Indonesia. In many ways, for example by promoting our culture
such as batik, angklung,
Tari pendet, and song Rasa sayange and
other cultures that
many people still
do not know. In addition to promoting the culture
of the country Indonesia, which was also the media plays an important role for information claimed culture by neighboring
countries "MALAYSIA".
How
to protect
our
culture?
Is it enough just to preserve the State of our culture?. The
answer is NO. Because the society is to have an important role in maintaining
the national culture of Indonesia. Without the protection of our cultural
community will be many more in claime by other countries, not just Malaysia, in
a way that we must increase our sense of nationalism, we must also consider the
use of technology in today's era.
The
conclusion is that we as a successor of the nation must maintain the cultural
legacies of our country should not be stolen by
other countries and
Technology is also an important result in our culture because of the
influence of using the technology
properly, will NOT be there anymore clime's
culture by in this
beloved country "INDONESIA
".
"If you save the culture, it means you also save the Nation and Your
country".
so many
of my speech,
thank you for the attention of the
audience .
By for now.
And Sucses for my school ………
Wassalamualaiku
Wr. Wb.
Yang warna kuning bisa dig anti dengan nama sekolah maisng
masing.. atau di sesuaikan dengan keadaan
Rabu, 17 Oktober 2012
Lirik lagu DIDI KEMPOT seniman jawa
Nama asli : Didi PrasetyoTanggal lahir : 31 Desember 1966
Lahir di : Surakarta, Indonesia
Zodiac : Capricorn
Terkenal sejak merilis lagu "Sewu Kutha"
Ayah :Ranto Edi Gudel (alm)
Pekerjaan Ayah :Pelawak
Saudara :Mamiek (Pelawak)
Ketika kita ngomongin musik asli indonesia tentunya campursari adalah salah satu jenis musik yang idak boleh ketinggalan untuk di sebut, dan ketika kita ngomongin campursari rasanya nama didi kempot adalah nama yang pasti terlintas. Mungkin dahulu campur sari identik dengan manthous tetapi di era campur sari saat ini nama didi kempot bisa di bilang adalah yang paling di kenal masyarakat, ini karena keberhasilannya membawa musik campur sari ke panggung nasional dan akhirnya campursari tidak hanya di kenal oleh masyarakat jawa.
Pria kelahiran solo 31 desember tahun 1966 ini adalah musisi yang sangat kreatif dan berjiwa seni tinggi, bayak dan hampir semua lagu yang di ciptakannya menjadi hits. Jiwa seni mengalir dari sang ayah yang merupakan seorang pelawak kondang asal solo yang bernama ranto edi gudel (almarhum) atau yang biasa di kenal mabh gudel, dan mungkin tidak banyak yang tau kalau sebenarnya didi kempot adalah adik dari pelawak senior mamiek prakoso atau lebih di kenal dengan nama mamiek srimulat.Lagu ngetop dan membawa nama Didi Kempot naik di ajang musik Campursari Indonesia kalau tidak salah Sewu kutho. Selain itu masih banyak lagi lagu ngetop dari Didi Kempot seperti Setasiun Balapan, Manuk Cucak Rawa, Tanjung Mas Ninggal Janji, Parangtritis, Aku Dudu Rojo, Janji Palsu, Arum Dalu dan masih banyak lagi.
Sosok didi kempot sangat mudah di kenali dengan ciri khas ramput kriting panjangnya. biasa dengan menggunakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya beliau sering muncul di televisi nasional membawakan campur sari yang sudah sedikit modern. Mungkin inilah salah satu kelebihan dari didi kempot di banding dengan musisi campursari lainnya, didi kempot berhasil membuat campur sari lebih di fahami dengan menyelipkan bahasa indonesia pada beberapa lagunya atau bahasa jawa yang umum di gunakan.
Diantara lagu campursari ciptaan didi kempot yang paling terkenal adalah stasiun balapa dan sewu kuto, lagu ini masih sering kita dengar di putar di radio-radio dan banyak di rekam ulang oleh penyanyi-penyanyi lain. Jadi saat ini anda masih bisa menikmati karya “legenda” campur sari indonesia ini dan semoga beliau tetap bisa menghasilkan karya musik yang baik.
Terminal Tirtonadi
Nalikane ing tirtonadi
Ngenteni tekane bis wayah wengi
Tanganmu tak kanthi
Kowe ngucap janji
Lungo mesti bali
Rasane ngitung nganti lali
Wis pirang taun anggonku ngenteni
Ngenteni sliramu
Neng kene tak tunggu
Nganti saelingmu
Moso rendeng wis ganti ketigo
Opo kowe ra kroso
Nek kowe esih eling lan tresno
Kudune kowe kroso
Nalikane ing tirtonadi
Ngenteni tekane bis wayah wengi
Tanganmu tak kanthi
Kowe ngucap janji
Lungo mesti bali
Wis suwe3x
Kangen sing tak rasakke
Rasane3x
Rasane koyo ngene
Neng kene3x
Aku ngenteni kowe
Aku kangen
Kangenku mung kanggo kowe
Rasane ngitung nganti lali
Wis pirang taun anggonku ngenteni
Ngenteni sliramu
Neng kene tak tunggu
Nganti saelingmu
Wis suwe3x
Kangen sing tak rasakke
Rasane3x
Rasane koyo ngene
Neng kene3x
Aku ngenteni kowe
Aku kangen
Kangenku mung kanggo kowe
Tanjung mas Ninggal Janji
Bebasan Koyo Ngenteni Udan Ning Mongso Ketigo
Najan Mung Sedelo Ora Dadi Ngopo
Penting Iso Ngademke Ati
Semono Ugo Rasane Atiku
Mung Tansah Nunggu Tekamu
Ra Kroso Setaun Kowe Ninggal Aku
Kangen... Kangen'e Atiku
Aku Sik Kelingan Naliko Nang Pelabuhan
Kowe Janji Lungo Ra Ono Sewulan
Nanging Saiki
Wes Luwih Ing Janji
Nyatane Kowe Ora Bali-bali
Ning Pelabuhan Tanjung Mas Kene
Biyen Aku Ngeterke Kowe
Ning Pelabuhan Semarang Kene
Aku Tansah Ngenteni Kowe
Parangtritis
Rasane kepengin nangis yen kelingan parangtritis
Rasane koyo diiris
Naliko udah gerimis rebo wengi malem kemis
Ra nyono ra ngiro janjimu jebul mung lamis
Parangtritis
Neng kono ono wong manis
Yen eling kowe reneo gelis
Parangtritis
Neng kono ono wong manis
Yen eling aku kepengin nangis
Ombak gede katon ngawe-awe
Nelongso neng ati rasane
Ombak gede sing dadi seksine
Isih kelingan tekan seprene
Sewu Kutho
Sewo kuto uwis tak liwati
Sewu ati tak takoni
Nanging kabeh
Podo rangerteni
Lungamu neng endi
Pirang tahun aku nggoleki
Seprene durung biso nemoni
Wis tak coba
Nglaliake jenengmu
Soko atiku
Sak tenane aku ora ngapusi
Isih tresno sliramu
Umpamane kowe uwis mulyo
Lilo aku lilo
Yo mung siji dadi panyuwunku
Aku pengin ketemu
Senajan sak kedeping moto
Kanggo tombo kangen jroning dodo
Wis tak coba
Nglaliake jenengmu
Soko atiku
Sak tenane aku ora ngapusi
Isih tresno sliramu
Umpamane kowe uwis mulyo
Lilo aku lilo
Yo mung siji dadi panyuwunku
Aku pengin ketemu
Senajan wektumu mung sedhela
Tak nggo tombo kangen jroning dodo
Senajan sak kedeping moto
Tak nggo tombo kangen jroning dodo
Eling Kowe
Sepine ing wengi iki
Aku eling
Atiku mung tansah eling karo kowe
Angin parama ribut
Tansah ngelingake
Aku ora bakal lali karo kowe
Aku kangen kowe
Esuk awan wengi sore
Aku kangen kowe
Cah ayu aku neng kene
Aku kangen kowe
Entenono sak tekane
Aku kangen kowe
Aku kangen karo kowe
Kangen kangen
Yang aku kangen
Ngenteni kowe aku neng kene
Eling alismu eling pipimu
Ugo eling kuwi ayumu cah ayu
Neng kene kangen atiku kangen
Mung eling karo kowe cah ayu
Layang Kangen
Layangmu tak tompo wingi kuwi
Wis tak woco opo karepe atimu
Trenyuh ati iki moco tulisanmu
Ra kroso netes eluh ning pipiku
Umpomo tanganku dadi suwiwi
Iki ugo aku mesti enggal bali
Ning kepriye maneh mergo kahananku
Cah ayu entenono tekaku
Reff:
Ra maido sopo wong sing ora kangen
Adoh bojo pingin turu angel merem
Ra maido sopo wing sing ora trenyuh
Ra kepethuk sawetoro pingin weruh
Percoyo aku, kuatno atimu
Cah ayu entenono tekaku
Cord Lirik
Langganan:
Postingan (Atom)








